Jumat, 03 Maret 2023

Tahapan Penguasaan Ilmu

 Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ilmu agama (Quran dan hadits) didapatkan dengan mencari ilmu, siapa pun gurunya. Agar ilmu bermanfaat dan barokah, ilmu didapatkan dengan cara yang benar dan dari sumber yang benar pula.

Cara yang benar mencari ilmu adalah dengan berguru. Seandainya seseorang mencari ilmu dengan sekehendaknya sendiri tanpa berguru, maka laqaala man qalaa maa qaala. Orang akan akan menjelaskan ilmunya sekehendaknya atau sesuai kepentingannya sendiri-sendiri.

Ilmu yang dicari hendaknya juga langsung dari sumbernya, yaitu ayat-ayat Quran dan al hadits. Dengan demikian, sang pencari ilmu mendapatkan sendiri dalil-dalilnya dan terhindar dari sesuatu yang dibenci Allah, yaitu “katanya-katanya” atau qiila wa qaala. Orang yang mengaji langsung dari ayat dan hadits niscaya berkata: "Berdasarkan Quran surat .... ayat ..." atau "Berdasarkan hadits riwayat ...". Tetapi kalau tidak, maka ia akan berkata "Menurut A katanya begini..., menurut B katanya begini...", dan inilah yang disebut "Katanya katanya."

Ilmu yang dicari pun harus didapatkan dari guru. Gurunya pun yang sudah berguru dan bila ditelusur bergurunya sampai pada sang pemilik ilmu agama yaitu Nabi Muhammad saw.  

Niat menjadi penentu awal seseorang menuntut ilmu. Bila niatnya benar, maka kebenaranlah yang akan didapatkan. Bila niatnya salah, maka ilmu akan menjerumuskan pemiliknya, kecuali ia mengubahnya. Hasil dari amalan seseorang sesuai dengan tujuan melakukan amalan tersebut. 

Contoh niat salah dalam mencari ilmu adalah bila niatnya untuk mengalahkan ilmu seorang guru. contoh lainnya adalah untuk mempengaruhi atau menjerumuskan orang-orang yang awam atau bodoh. Inti niat yang benar adalah untuk beribadah. Adapun ibadahnya sesuai dengan petunjuk Quran dan hadits, seperti menetapi perintah mencari ilmu, mencari dasar hukum ibadah, untuk mencari pahala, dll.

Bila niatnya untuk ibadah maka yang didapatkan adalah pahala, bila niatnya untuk menyaingi ulama atau menjerumuskan orang-orang bodoh maka hasilnya adalah dosa yang berujung siksa.

Untuk mendapatkan dan menguasai ilmu seseorang perlu melalui beberapa tahap. Tahapannya dapat dibagi seperti dalam uraian di bawah ini

1.       Pengesahan ilmu

Ilmu agama sudah sah apabila seseorang sudah berguru. Dengan berguru seseorang sudah berhak untuk mengamalkannya. Ia pun berhak untuk menyampaikannya pada orang lain baik bacaan, makna, maupun keterangannya sesuai dengan yang disampaikan gurunya.

Dengan berguru, maka murid mendapatkan penjelasan mengenai ilmu yang dikajinya. Orang yang menjelaskan ayat-ayat Quran dengan akalnya (tidak berguru), maka neraka lebih berhak baginya.

Dengan berguru, maka murid niscaya mendapatkan penjelasan tentang apa yang dikajinya. Gambarannya, misalnya guru menjelaskan kalimat “Seekor kucing makan tikus mati di kebun.” Dengan berguru, tentunya guru menjelaskan siapa yang mati, apakah kucing, tikus, atau kedua-duanya. Bila tidak berguru, kepada siapa murid akan bertanya?

2.       Pemahaman ilmu

Setelah ilmunya sah, seseorang untuk mencapai tahap berikutnya harus berusaha memahaminya. Indikator seseorang sudah memahami ilmunya adalah mampu penjelaskannya kepada orang lain dengan benar sesuai penjelasan gurunya. Mudahnya, ia dapat mengajarkan kembali ilmunya kepada orang lain. 

3.       Mendapatkan hikmah

Ilmu menjadi bermanfaat bila mendapatkan hikmah. Barang siapa yang mendapatkan hikmah, maka sungguh diberi kebaikan yang banyak.

Mendapatkan hikmah berarti mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Ilmunya tidak berhenti sampai sebagai pengetahuan, tetapi lebih daripada itu. Ia memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan.

Pemanfaatan ilmu bermacam-macam. Kemanfaatannya  dapat dari ranah hati/perasaan, ucapan, perbuatan, keimanan, pengetahuan, dll. Bentuk nyatanya dapat berupa perasaan tenang, rasa bersyukur, ucapan yang semakin baik, perbuatan yang menjadi lebih baik, mengamalkan ilmunya, keimanan yang semakin meningkat, pengetahuan yang semakin luas, dan lain-lain. 

4.       Mengkaji ilmu

Tahap selanjutnya dari mencari ilmu adalah dengan kemampuan mengkaji ilmu yang telah didapatkannya. Orang dapat njlentrehke (menguraikan) pengertian ilmu yang didapatkannya. Kajian diperoleh dengan menghubungkan dalil yang satu dengan dalil lainya. Dalil tidak berdiri sendiri. Dalil berhubungan dengan dalil lainnya dan saling menjelaskan.

Guru mungkin memberikan penjelasan yang berbeda pada saat yang berbeda. Ucapan alhamdulillaah suatu saat disebut sebagai ucapan syukur. Namun pada saat yang lainnya disebut sebagai ucapan dzikir. Pada saat yang lainnya dikatakan sebagai doa. Murid pun boleh menyimpulkan bahwa alhamdulillaah adalah ucapan syukur sekaligus ucapan dan doa. 

Shalat juga merupakan pengamalan yang terdiri dari beberapa pengamalan. Di dalam shalat ada takbir, doa, shalawat, salam, dan lain-lain yang masing-masing memiliki keutamaan sendiri-sendiri. Ia pun dapat melogikakan mengapa shalat menjadi masuk surga atau tidaknya seseorang. Orang yang shalatnya baik perbuatannya niscaya baik pula, karena “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar.”

Orang yang sudah sampai pada tahap ini juga dapat membuat kesimpulan sendiri dari sebuah dalil yang kesimpulannya bersesuaian dengan semua dalil lainnya. Ia pun juga dapat mengambil makna yang tersirat dari suatu pengertian yang tersurat pula.

Dalam taksonomi Bloom, orang yang sudah sampai pada tahapan ini berarti memiliki keterampilan menganalisis. Ia sudah mampu menguraikan ilmu yang didapatkannya.

5.       Menjiwai ilmu

Pada tahap ini, orang hidupnya sudah disinari dengan ilmu. Hati, perasaan, ucapan, dan perbuatannya semua sudah didasarkan atas ilmu. Contoh mudahnya adalah Nabi Muhammad saw yang akhlaknya adalah Quran.  

Tidak mudah seseorang yang belajar Quran hadits untuk mencapai tahapan ini. Namun demikian, ini bukan berarti tidak mungkin. Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, semakin ia dapat sampai pada tahapan ini.

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin. Semoga kita mendapatkan ilmu yang barokah dan semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.

Artikel ini dapat direvisi setiap saat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beberapa Doa Umroh dan Haji

Doa ada bermacam-macam. Doa suatu amalan dapat berbeda karena sumbernya juga berbeda dan sama-sama sah untuk diamalkan. Salah satunya adalah...