Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ilmu agama (Quran
dan hadits) didapatkan dengan mencari ilmu, siapa pun gurunya. Agar ilmu bermanfaat
dan barokah, ilmu didapatkan dengan cara yang benar dan dari sumber yang benar
pula.
Cara yang benar
mencari ilmu adalah dengan berguru. Seandainya seseorang mencari ilmu dengan
sekehendaknya sendiri tanpa berguru, maka laqaala
man qalaa maa qaala. Orang akan akan menjelaskan ilmunya sekehendaknya atau
sesuai kepentingannya sendiri-sendiri.
Ilmu yang dicari hendaknya
juga langsung dari sumbernya, yaitu ayat-ayat Quran dan al hadits. Dengan
demikian, sang pencari ilmu mendapatkan sendiri dalil-dalilnya dan terhindar
dari sesuatu yang dibenci Allah, yaitu “katanya-katanya” atau qiila wa qaala. Orang yang mengaji langsung dari ayat dan hadits niscaya berkata: "Berdasarkan Quran surat .... ayat ..." atau "Berdasarkan hadits riwayat ...". Tetapi kalau tidak, maka ia akan berkata "Menurut A katanya begini..., menurut B katanya begini...", dan inilah yang disebut "Katanya katanya."
Ilmu yang dicari
pun harus didapatkan dari guru. Gurunya pun yang sudah berguru dan bila
ditelusur bergurunya sampai pada sang pemilik ilmu agama yaitu Nabi Muhammad saw.
Niat menjadi penentu awal seseorang menuntut ilmu. Bila niatnya benar, maka kebenaranlah yang akan didapatkan. Bila niatnya salah, maka ilmu akan menjerumuskan pemiliknya, kecuali ia mengubahnya. Hasil dari amalan seseorang sesuai dengan tujuan melakukan amalan tersebut.
Contoh niat salah dalam mencari ilmu adalah bila niatnya untuk mengalahkan ilmu seorang guru. contoh lainnya adalah untuk mempengaruhi atau menjerumuskan orang-orang yang awam atau bodoh. Inti niat yang benar adalah untuk beribadah. Adapun ibadahnya sesuai dengan petunjuk Quran dan hadits, seperti menetapi perintah mencari ilmu, mencari dasar hukum ibadah, untuk mencari pahala, dll.
Bila niatnya untuk ibadah maka yang didapatkan adalah pahala, bila niatnya untuk menyaingi ulama atau menjerumuskan orang-orang bodoh maka hasilnya adalah dosa yang berujung siksa.
Untuk mendapatkan dan menguasai ilmu
seseorang perlu melalui beberapa tahap. Tahapannya dapat dibagi seperti dalam uraian di bawah ini
1.
Pengesahan
ilmu
Ilmu agama sudah sah apabila
seseorang sudah berguru. Dengan berguru seseorang sudah berhak untuk mengamalkannya.
Ia pun berhak untuk menyampaikannya pada orang lain baik bacaan, makna, maupun
keterangannya sesuai dengan yang disampaikan gurunya.
Dengan berguru, maka murid
mendapatkan penjelasan mengenai ilmu yang dikajinya. Orang yang menjelaskan
ayat-ayat Quran dengan akalnya (tidak berguru), maka neraka lebih berhak
baginya.
Dengan berguru, maka murid
niscaya mendapatkan penjelasan tentang apa yang dikajinya. Gambarannya, misalnya
guru menjelaskan kalimat “Seekor kucing makan tikus mati di kebun.” Dengan berguru,
tentunya guru menjelaskan siapa yang mati, apakah kucing, tikus, atau
kedua-duanya. Bila tidak berguru, kepada siapa murid akan bertanya?
2.
Pemahaman
ilmu
Setelah ilmunya sah, seseorang
untuk mencapai tahap berikutnya harus berusaha memahaminya. Indikator seseorang
sudah memahami ilmunya adalah mampu penjelaskannya kepada orang lain dengan
benar sesuai penjelasan gurunya. Mudahnya, ia dapat mengajarkan kembali ilmunya
kepada orang lain.
3.
Mendapatkan
hikmah
Ilmu menjadi bermanfaat bila
mendapatkan hikmah. Barang siapa yang mendapatkan hikmah, maka sungguh diberi
kebaikan yang banyak.
Mendapatkan hikmah berarti
mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Ilmunya tidak berhenti sampai sebagai pengetahuan,
tetapi lebih daripada itu. Ia memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan.
Pemanfaatan ilmu bermacam-macam.
Kemanfaatannya dapat dari ranah hati/perasaan,
ucapan, perbuatan, keimanan, pengetahuan, dll. Bentuk nyatanya dapat berupa
perasaan tenang, rasa bersyukur, ucapan yang semakin baik, perbuatan yang
menjadi lebih baik, mengamalkan ilmunya, keimanan yang semakin meningkat,
pengetahuan yang semakin luas, dan lain-lain.
4.
Mengkaji
ilmu
Tahap selanjutnya dari mencari ilmu adalah dengan kemampuan mengkaji ilmu yang telah didapatkannya. Orang dapat njlentrehke (menguraikan) pengertian ilmu yang didapatkannya. Kajian diperoleh dengan menghubungkan dalil yang satu dengan dalil lainya. Dalil tidak berdiri sendiri. Dalil berhubungan dengan dalil lainnya dan saling menjelaskan.
Guru mungkin memberikan penjelasan
yang berbeda pada saat yang berbeda. Ucapan alhamdulillaah
suatu saat disebut sebagai ucapan syukur. Namun pada saat yang lainnya
disebut sebagai ucapan dzikir. Pada saat yang lainnya dikatakan sebagai doa. Murid
pun boleh menyimpulkan bahwa alhamdulillaah
adalah ucapan syukur sekaligus ucapan dan doa.
Shalat juga merupakan
pengamalan yang terdiri dari beberapa pengamalan. Di dalam shalat ada takbir,
doa, shalawat, salam, dan lain-lain yang masing-masing memiliki keutamaan sendiri-sendiri.
Ia pun dapat melogikakan mengapa shalat menjadi masuk surga atau tidaknya
seseorang. Orang yang shalatnya baik perbuatannya niscaya baik pula, karena “Sesungguhnya
shalat mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar.”
Orang yang sudah sampai pada tahap ini juga dapat membuat kesimpulan sendiri dari sebuah dalil yang kesimpulannya bersesuaian dengan semua dalil lainnya. Ia pun juga dapat mengambil makna yang tersirat dari suatu pengertian yang tersurat pula.
Dalam taksonomi Bloom, orang
yang sudah sampai pada tahapan ini berarti memiliki keterampilan menganalisis. Ia
sudah mampu menguraikan ilmu yang didapatkannya.
5.
Menjiwai
ilmu
Pada tahap ini, orang hidupnya
sudah disinari dengan ilmu. Hati, perasaan, ucapan, dan perbuatannya semua
sudah didasarkan atas ilmu. Contoh mudahnya adalah Nabi Muhammad saw yang
akhlaknya adalah Quran.
Tidak mudah seseorang yang belajar Quran hadits
untuk mencapai tahapan ini. Namun demikian, ini bukan berarti tidak mungkin. Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, semakin ia dapat sampai pada
tahapan ini.
Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin. Semoga kita mendapatkan ilmu yang
barokah dan semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.
Artikel ini dapat
direvisi setiap saat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar